Skip to content

Suka Duka Memiliki Pulsar

October 29, 2014

Yogyakarta, 29 Oktober 2014

 

Pagi ini saya niatnya mau ke agen kapal, berkunjung ke rumah sahabat, dan mampir ke toko buku untuk mengecek judul-judul terbaru. Tapi sayang, baru saja selesai mencuci motor, tiba-tiba motor saya tidak mau menyala. Motor saya ini merknya Bajaj Pulsar Dtsi 200 cc keluaran 2009. Parahnya, tidak ada kick starter sebagai alternatif jika starter elektrik tidak berfungsi.

Saya memiliki motor ini hampir sekitar satu tahun. Waktu itu beli motor karena memang butuh alat transportasi usai pulang dari berlayar. Di rumah ada beberapa motor matic dan bebek tapi semuanya terpakai oleh adik dan ayah. Sudah lama saya ingin memiliki motor laki-laki dan waktu itu Pulsar kelihatannya menarik karena walaupun tak sekompetitif merk Jepang tapi harganya beda jauh. Pulsar ini keluaran India, kualitasnya lebih baik dari motor-motor Cina yang dulu sempat booming tapi akhirnya tak terdengar lagi kabarnya.

Sayangnya, saya baru menyadari bahwa induk Pulsar di Indonesia, Bajaj Auto Indonesia (BAI) telah hengkang dari Indonesia karena tidak mampu memenuhi target penjualan. Mereka akhirnya memakai strategi yang diterapkan di beberapa negara Asia Tenggara dan Eropa, yakni menggandeng Kawasaki untuk memasarkan produk mereka. Jadi, lahir lah Kawasaki Bajaj Pulsar 200 NS yang baru-baru ini menyabet gelar rookie of the year dari salah satu media otomotif.

Strategi Bajaj dengan menggandeng Kawasaki untuk memasarkan produk-produk terbaru mereka memang jitu. Dengan label Kawasaki yang sudah lama memiliki image motor sport premium, Pulsar generasi baru pun seakan di rebranding dengan tampilan segar, teknologi mutakhir namun harganya terjangkau jika dibandingkan dengan produk-produk asli Kawasaki. Pulsar 200 NS sebenarnya masih mengandalkan teknologi bawaan Bajaj, seperti busi yang lebih dari satu, yakni tiga biji!! (triple spark).

Yang disesalkan dari keputusan BAI untuk hengkang dari Indonesia dan memasrahkan penjualan produknya pada Kawasaki adalah terlantarnya para pemilik Pulsar seri sebelum 200 NS. Seperti saya ini. Saya baru sadar setelah membeli motor Pulsar 200cc bahwa BAI sudah hengkang ketika sulit menemukan bengkel resmi Bajaj di Jogja. Setelah browsing-browsing di internet, rupanya banyak bengkel resmi Bajaj berguguran satu demi satu seiring ambruknya BAI. Untungnya, masih ada bengkel resmi yang bertahan di Jalan Magelang, samping terminal Jombor, walaupun dealer-nya telah berganti nama menjadi Viar tapi bengkelnya tetap mengerjakan motor-motor Bajaj.

Urusan spare part pun juga bisa dibilang sulit. Saya mengikuti forum-forum para pemakai Pulsar di dunia maya, dan mereka kadang mengakali kelangkaan spare part ini dengan cara memutilasi sesama Pulsar. Beberapa pemilik Pulsar menjual part-part motor mereka secara eceran karena dinilai lebih menguntungkan daripada menjual motornya secara utuh. Miris juga sebenarnya karena dengan begitu justru akan semakin menurunkan populasi Pulsar series sebelum NS tentunya. Dengan menurunnya populasi motor ini, maka bengkel-bengkel khusus Pulsar yang kini masih bertahan tentu akan semakin sulit bertahan. Jika saya terpaksa harus menjual Pulsar saya, saya tidak ingin menjualnya secara eceran. Terlalu berharga untuk memutilasinya karena bagaimana pun ini adalah motor kopling pertama saya, motor laki-laki pertama saya, motor dengan kubikasi mesin 200 cc pertama saya, motor yang pernah membuat saya tiga kali terjatuh “konyol”, motor dengan suspensi belakang monoshock pertama saya (meskipun monoshock modifikasi dari pemilik sebelumnya), motor pertama yang pernah saya geber hingga 115 km/ jam (saya belum pernah berani menggeber motor dengan kecepatan di atas 100 km/ jam sebelumnya).

Yang menjengkelkan dari memiliki motor nyaman namun spare part dan bengkel susah ya begini, jika sudah mulai kambuh-kambuhan bikin pusing. Beberapa waktu lalu saya menemukan sebuah bengkel Pulsar yang cukup lumayan hasil kerja mekaniknya, sebut saja A Motor. Mekaniknya adalah mantan mekanik bengkel resmi Bajaj di Jalan Magelang. Saya sudah beberapa kali ke sana untuk servis rutin dan mengganti gear set. Saya sempat memesan rantai kamprat dan sudah membayarnya. Namun hingga kini bengkel itu tak pernah buka lagi. Entah ada apa. Ternyata, dari informasi mekanik bengkel resmi di Jln Magelang, mekanik sekaligus pemilik bengkel itu tersangkut kasus penggelapan mobil. Ia sudah beberapa kali tersangkut kasus penggelapan rupanya. Bengkelnya pun juga kerap berpindah-pindah. Entah benar atau tidak, padahal saya sudah pas banget dengan garapan bengkel tersebut. Mekaniknya juga menurut saya ramah, jauh dari kesan seorang penipu.

Saya tak memiliki kemampuan mekanik tingkat dasar sekali pun. Mungkin hanya tahu mengendorkan dan mengencangkan sekrup saja. Dan rupanya, saya bisa dikatakan nekat membeli Pulsar. Nyatanya, banyak para pemilik Pulsar yang memang paham betul jeroan mesin motor, terutama Pulsar yang karakternya berbeda dari merk-merk Jepang. Mesin Pulsar lebih cepat panas daripada motor lain karena businya kembar. Letak part-partnya juga kadang tidak lazim. Saya pernah hendak mengganti olie di sebuah bengkel biasa, ternyata mekaniknya sulit menemukan lubang pembuangan olie. Setelah saya tunjukkan letaknya, baru ia tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. Katanya, “Baru kali ini saya pegang motor Pulsar mas.”

Baru saja saya bertanya di forum para pemilik Pulsar di media sosial tentang problem motor saya. Ada yang menyarankan untuk mengecek aki, bendik, dan dynamo. Ada yang menyuruh untuk mendorong motor saja hingga menyala. Ada juga yang bilang bahwa body com motor minta diganti. Saran terakhir ini rasanya agak masuk akal karena saya rasa ini bukan hanya karena tersiram air saat saya mencuci motor tadi. Suara kreek kreeek saat saya men-starter motor mengisyaratkan ada yang tidak beres di dalam sana. Saya belum pernah tahu apa itu body com, bahkan baru dengar kali ini. Banyak part yang baru saya tahu ada di dalam jeroan Pulsar, seperti misalnya balancer yang membuat bunyi mesinnya swiiing swiing itu. Saya mengetahuinya ketika melihat mekanik bengkel resmi membongkar mesin motor saya. Kata mekanik cuma Pulsar dan beberapa motor lain yang menggunakan balancer sedangkan motor-motor Jepang rata-rata tidak menggunakannya. Menurut saran seorang Pulsarian, body com harganya sekitar lima puluh ribu. Letaknya ada di dalam magnet motor. Entah lah, saya benar-benar tidak paham. Tetapi, saya punya keinginan kuat untuk sekali-kali membongkar mesin motor saya sendiri. Seandainya punya peralatan mekanik lengkap tentu lebih menyenangkan.

From → catatan harian

One Comment
  1. Pulsar saya 180cc yang masih pake genjotan. Pernah sekali dulu diservis di Bengkel yang di Mlati (Jamal) itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: