Skip to content

Fenomena Xiaomi dan Kebangkitan Industri Nasional

October 31, 2014

Sebelumnya saya tidak akan pernah tahu bahwa Xiaomi adalah brand produk smartphone terbaru yang saat ini sedang booming, terutama di Asia, jika tidak mendengar celetukan adik saya. Waktu itu dia bilang bahwa daripada membeli handphone Samsung second, lebih baik beli handphone Xiaomi.

“HP apan tuh?” tanya saya karena memang merk itu samar-samar pernah saya dengar.

“HP China tapi kualitasnya setara dengan Iphone dan Samsung. Harganya lebih murah lagi.”

Saya tak terlalu percaya, tetapi akhirnya penasaran juga. Dulu pernah booming juga produk smartphone berkualitas bagus asal China, yakni Oppo. Di kala produk-produk sejenis asal China membanting harganya, Oppo dengan percaya dirinya membandrol produk mereka setara merk-merk konvensional lain yang sudah berdiri kokoh dalam pasar ponsel pintar. Isu yang berkembang kemudian bahwa Oppo mengalami kemunduran kualitas, entah benar atau tidak, tetapi banyak yang menyebutkan bahwa kuliitasnya tidak sebaik ketika pertama kali muncul di pasar.

Hari ini saya membaca sebuah artikel di Tempo.co tentang Xiaomi yang merangsek ke tangga teratas pangsa pasar ponsel pintar. Dalam artikel itu disebutkan bahwa Xiaomi kini merupakan pembuat smartphone terbesar ketiga di dunia. Menurut riset IDC terbaru, posisi itu sebagian besar karena keberhasilan penjualan ponsel high-end MI4. Ini merupakan pertama kalinya Xiaomi masuk ke dalam daftar lima produsen smartphone IDC.

Xiaomi memang menyematkan fitur-fitur canggih dalam produknya. Keunggulan tersebut masih didukung oleh harga jualnya yang lebih murah dibandingkan merk tenama seperti Iphone dan Samsung. Produk terbaru mereka, yakni MI4 menawarkan layar lebar 5 inci, resolusi 1.920 x 1.080 piksel. Prosesornya Snapdragon 801 2.5 gigahertz dengan RAM 3 gb. Jenis chipset tersebut kini menjadi yang tercepat untuk kategori perangkat bergerak. Kamera utamanya beresolusi 13 mp dan kamera depannya 8mp!!

Sistem operasi yang digunakan Xiaomi adalah MIUI5, modifikasi dari platform Android. MIUI adalah platform yang mendukung aplikasi lokal yang dapat disesuikan di setiap negara. Dengan segala kecanggihan fiturnya itu, Mi4 dengan kapasitas memori 16 gb dibanderol US$ 320 atau sekitar Rp 3,7 juta saja!!

Tentu menggiurkan sekali bukan dengan harga yang relatif murah konsumen bisa mendapatkan ponsel pintar kelas premium. Bandingkan jika konsumen ingin memiliki ponsel terbaru besutan Samsung atau Iphone, berapa dana yang harus disiapkan?

Di Indonesia, Xiaomi belum lama diperkenalkan ke publik. Mereka baru masuk ke pasar Indonesia pada Agustus kemarin dengan cara menggaet salah satu toko online besar untuk melayani pre-order produk mereka. Indonesia memang selalu menjadi pasar yang menggiurkan bagi produsen ponsel pintar. Anak-anak muda kita kini sangat melek teknologi dan internet meskipun memang masih sebatas sebagai konsumen. Perang harga di antara para produsen smartphone, terutama produk China, tentu semakin menyenangkan konsumen.

Strategi yang dipakai oleh perusahaan yang baru berdiri pada 2010 ini adalah marketing via internet murni. Mereka mampu memangkas ongkos distribusi dan iklan konvensional yang membebani biaya operasional dan berimbas pada harga jual yang tinggi. Menarik memang! Dalam hal ini, mereka hanya memikirkan biaya pengiriman. Promosi pun berjalan dengan sendirinya dan kilat dengan strategi menggandeng toko online utama seperti Lazada di Indonesia. Para netizen yang latah pun men-share produk baru Xiaomi tersebut dan… Voila! Iklan gratis itu meluncur bak bola salju dari share berantai di dunia maya.

Kita bisa belajar dari strategi Xiaomi dalam mengekspansi pasar. Setidaknya, mereka berani menempuh cara-cara non konvensional yang terbukti sampai saat ini mampu menempatkan mereka di urutan ketiga produsen ponsel pintar dunia dalam hal penjualan.

Ketika saya membaca sebuah artikel lain tentang ekspansi Xiaomi ke Indonesia, bahkan ada laporan yang menyebutkan bahwa sebanyak 10.000 unit Redmi 1S, produk Xiaomi yang pertama diperkenalkan di Indonesia, ludes dalam waktu 12 menit melalui pemesanan online!!

Tak percaya? Sebagai gambaran, Xiaomi Redmi 1S dipersenjatai dengan prosesor quad-core Snapdragon 400 1,6 GHz. Produk ini bahkan disebut-sebut sejajar dengan beberapa merk terkenal seperti Motorola Moto G, Sony Xperia M2, Asus Zenfone 5, hingga Oppo Find 5 Mini. Parahnya, harganya cuma Rp 1,5 juta saja bro!! Bandingkan dengan adik saya yang beberapa waktu lalu membeli Zenfone 5 seharga sekitar Rp 2,5 juta.

Namun, fenomena fantastis Xiaomi tersebut ternodai dengan tuduhan bahwa produk-produk Xiaomi menjiplak Iphone. Tempo hari saya sempat melihat tagline di berita televisi bahwa bos Xiaomi di Tiongkok telah mengakui bahwa mereka memang menjiplak Iphone yang mereka akui sebagai ponsel dengan rancangan paling indah di dunia. Apa pun itu, fenomena Xiaomi ini bisa menjadi contoh bagi kita, bangsa Indonesia, untuk bangkit menjadi negara produsen yang berdikari. Lihat lah China, yang dalam beberapa dekade terakhir ini sibuk mengejar pertumbuhan ekonominya dengan berbagai cara. Mereka membanjiri dunia dengan produk-produk buatan mereka yang kerap dicap murahan, jiplakan, dan mutunya rendah. Namun toh mereka bertahan. Lambat laun, tentu produk-produk mereka akan semakin sempurna berkat pengalaman dan riset.

Kita ingat betapa dulu Jepang pasca Perang Dunia II juga mengejar pertumbuhan ekonominya dengan industrialisasi besar-besaran. Industri otomotif mereka dulu ditertawakan Barat, dianggap menjiplak dan tidak orisinal. Mereka sulit menembus pasar Eropa dan Amerika walaupun di Asia mereka mulai berjaya. Tapi, lihat lah kini. Mobil-mobil buatan Jepang bersliweran di mana-mana, di berbagai penjuru dunia. Korea pun menyusul kini dengan metode yang hampir sama. Nah, kini Tiongkok pun tengah berlari dengan nafas yang panjang dan langkah yang kadang brutal tapi jelas arah mereka ke depan!!

Kita boleh berharap banyak pada pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Sudah saatnya kita merevolusi mental kita sendiri, untuk berjaya di negeri seniri, untuk bertaji di regional kita, dan cukup dipandang oleh dunia. Mari kita memandang langkah ke depan dengan optimis, bahwa Indonesia tidak akan dilirik hanya sebagai pasar menggiurkan saja, kita harus bangkit menjadi produsen dunia yang patut diperhitungkan sebagai kekuatan ekonomi baru, setidaknya di Asia.

From → artikel lepas

2 Comments
  1. tulisan lo bagus, Ko…

    • makasih mas Indra Permana. tapi tulisan lo lebih bagus ndra. buktinya bentar lagi cetak ulang kan.. mantapp!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: